Pemerintah Tidak Main-Main Kembangkan Sorgum

Keseriusan pemerintah untuk menjadikan sorgum sebagai tanaman alternatif pengganti gandum tampaknya tidak main-main. Saat kunjungannya ke Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 3 Juni 2022 lalu, Presiden Jokowi mempertegaskan bahwa pemerintah tidak main-main kembangkan Sorgum, antara lain dengan merencanakan perluasan area lahan tanaman sorgum di NTT guna mengurangi ketergantungan impor gandum dan jagung sebagai sumber pangan.

“Kita akan perbesar tanaman sorgum ini di Provinsi NTT dengan harapan kita miliki alternatif pangan dalam rangka (mengatasi) krisis pangan dunia. Kalau kita ada berlebih, ada stok, justru ini yang akan kita ekspor,”

kata Presiden Jokowi saat memberikan keterangan pers melalui video yang diunggah akun YouTube Sekretariat Presiden seperti dikutip dari Antara.

Jokowi pun telah memerintahkan Gubernur NTT, Bupati Sumba Timur, dan Bupati Waingapu untuk betul-betul memastikan berapa luasan lahan yang bisa dipakai untuk menanam sorgum, sehingga Indonesia tidak bergantung kepada gandum dan tidak bergantung pada jagung dari impor.

Pengembangan Lahan Sorgum Hingga 154 Ribu Ha

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai mengikuti rapat internal terkait peningkatan produksi sorgum dan kebijakan gandum di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 4 Agustus 2022 mengatakan, Presiden Joko Widodo meminta pengembangan lahan sorgum hingga 154 ribu hektare di Kabupaten Waingapu, Nusa Tenggara Timur, sebagai komoditas pangan substitusi pengganti gandum.

“Arahan Bapak Presiden diprioritaskan untuk NTB di Kabupaten Waingapu yang kemarin sudah dilihat Bapak Presiden, dan di 2023 disiapkan lahan 115 ribu hektare dan di 2024 sebesar 154 ribu hektare,” kata Menko Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Jakarta.

Tapi pengembangan sorgum ternyata tidak hanya di NTT. Menurut Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, saat ini sudah terdapat pengembangan sorgum di lahan seluas 15.000 hektare. Lahan tersebut tersebar di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga Lampung.

Tingkat Produktivitas Tanaman Sorgum

Produktivatas tanaman sorgum ternyata cukup tinggi. Sebagai informasi, saat ini luas lahan sorgum di Kabupaten Sumba Timur mencapai 60 hektar dengan produktivitas sebesar 5 ton per hektar. Meski masih tergolong uji coba, petani dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp 50 juta per hektar dalam satu tahun atau Rp 4 juta lebih per bulan.

Presiden mengatakan bahwa panen sorgum di lahan tersebut menunjukkan hasil yang sangat baik dan berpotensi untuk memberikan lapangan kerja baru, sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Menurut Moeldoko, secara umum di NTT produktivitas sorgum bisa 3 sampai 4 ton per hektare. Sementara di Jawa sebanyak 4 sampai 5 ton per hektare.  Tapi inipun masih bisa terus ditingkatkan.

Tanaman sorgum dinilai menjadi alternatif sumber pangan selain beras dan jagung, guna menghadapi krisis pangan. Sebelumnya sejak pandemi Covid-19 merebak, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) telah memperingatkan agar setiap negara memiliki rencana dalam menjaga kelancaran rantai pasok makanan demi mengantisipasi potensi krisis pangan.

Kenaikan Harga Komoditas Pangan

Saat ini kenaikan-kenaikan harga pangan sudah mulai dirasakan masyarakat, sebagai tahapan akan munculnya krisis pangan. Oleh karena itu, perlu adanya rencana besar dalam menghadapi ancaman tersebut, salah satunya dengan memanfaatkan alternatif bahan pangan.

“Banyak pilihan-pilihan yang bisa kita kerjakan di negara kita, diversifikasi pangan, alternatif-alternatif bahan pangan, tidak hanya tergantung pada beras karena kita memiliki beras, karena kita memiliki jagung, memiliki sagu, dan juga sebetulnya tanaman lama kita, yang ketiga adalah sorgum,” ucap Presiden.

Uji coba pengembangan tanaman sorgum di NTT tersebut dinilai Presiden sebagai sesuatu yang berhasil. “Kita ingin setelah dari uji coba ini sudah ketemu, kendalanya apa sudah ketemu, problemnya apa sudah ketemu, kita akan memperbesar tanaman sorgum ini di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan harapan, kita memiliki alternatif pangan dalam rangka menghadapi krisis pangan dunia,” ucap Presiden.

Pembentukan Road Map Produksi Sorgum

Keseriusan pemerintah untuk mengembangkan tanaman sorgum tidak berhenti sampai di situ. Moeldoko mengatakan, Presiden Joko Widodo sudah menginstruksikan pembuatan peta jalan (road map) produksi dan hilirisasi sorgum hingga 2024. Peta jalan tersebut disusun untuk menghadapi krisis pangan pada masa depan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, road map pengembangan sorgum hingga 2024, sasaran luas tanam pada tahun 2023 seluas 30.000 hektare. Target sebarannya di 17 provinsi dengan produksi sebesar 115.848 ton, asumsi provitas 4 ton per hektare. Sementara itu, sasaran luas tanam pada tahun 2024 seluas 40.000 hektare yang tersebar di 17 provinsi dengan produksi sebesar 154.464 ton asumsi provitas 4 ton per hektare.

Mengajak Pengusaha Menanam Sorgum

Selanjutnya, pada acara peluncuran program lumbung pangan atau food estate berbasis mangga di Gresik, Jawa Timur, 23 Agustus lalu, Presiden Jokowi kembali mengulangi komitmennya untuk mendorong substitusi produk impor di tengah krisis pangan. Presiden pun mengajak para pengusaha untuk menanam sorgum guna menekan impor gandum.

Menurut Presiden, Indonesia masih mengimpor gandum dan jagung dalam jumlah yang cukup besar. Impor gandum jumlahnya hingga 11 juta ton per tahun, sedangkan impor jagung mencapai 800 ribu ton per tahun. Meski begitu, impor jagung itu telah menurun dibandingkan tujuh tahun lalu yang mencapai 3,5 juta ton per tahun.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk menyatakan siap mengembangkan mie instan berbahan dasar sorgum untuk menggantikan gandum impor.

Direktur Indofood Sukses Makmur, Fransiscus Welirang mengatakan, pihaknya telah berbicara dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk mengembangkan mie instan berbasis pangan lokal ini. “Produk tepung ini berkembang terus, akan ada produk baru,” kata pria yang akrab dipanggil Franky ini.

Konsumsi Gandum per Kapita Penduduk Indonesia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi gandum per kapita penduduk Indonesia pada 2019 mencapai 30,5 kg/tahun. Kebutuhan gandum terbesar ialah untuk industri produk pangan olahan, seperti mie instan, kue, dan roti.

Sejak perseteruan dua negara laut hitam, mulai Februari, harga gandum terus meningkat. Tren peningkatan harga gandum telah menunjukkan tanda-tanda mereda pada Juli. Bank Dunia melaporkan bahwa harga gandum tumbuh 29,98% ke US$382,5 per ton pada Juli dari tahun sebelumnya.

Meski harga gandum telah naik, tapi pasokan gandum di pasar ekspor telah berkurang lantaran beberapa negara produsen melarang ekspor gandum, seperti Kazakhstan, Kirgistan, India, Afghanistan, Aljazair, Serbia, dan Ukraina.

Karena itu Presiden Joko Widodo meminta agar pengembangan tanaman sorgum menjadi pengganti gandum dipercepat. Hal itu disebabkan Indonesia menjadi salah satu negara terdampak kebijakan larangan ekspor gandum berkepanjangan dari sejumlah negara produsen.

Ia mencotohkan, negara Kazahkstan yang melarang ekspor gandum hingga 30 September 2022, serta Kirgizstan, India, Afghanistan, Aljazair, Serbia, dan salah satu negara penghasil gandum terbesar yang menahan ekspor gandumnya hingga 31 Desember 2022.

Skema Wajibkan Impor Gandum Serap Sorgum Lokal

Bentuk keseriusan pemerintah mengembangkan tanaman sorgum, Kementerian Pertanian (Kementan) akan mengatur penyerapan sorgum di dalam negeri melalui mekanisme serupa dengan syarat impor. Caranya, yaitu mewajibkan importir untuk menyerap sorgum produksi petani lokal apabila ingin mendapatkan persetujuan impor gandum dari pemerintah.

Offtaker sorgum itu adalah semua pelaku industri yang mengimpor gandum. Jangan lupa, volume impor gandum itu sudah 11 juta ton,” kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di Kompleks Gedung DPR, pada 16 Agustus 2022.

Syahrul mengatakan, Presiden Joko Widodo telah menyetujui skema tersebut. Namun dirinya belum bisa memastikan kapan skema tersebut dapat diterapkan.

Perintahkan BRIN Kembangkan Varietas Unggul

Terkait pengembangan tanaman sorgum yang diperintahkan Presiden tersebut, Menko Airlangga berharap Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dapat terus mengembangkan varietas sorgum. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat juga ditugaskan untuk mempersiapkan kebutuhan air dalam bentuk irigasi ataupun embung di wilayah klaster pertama yang dicoba, yakni di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Dalam klaster pertama tersebut diharapkan dalam 100 hari bisa dievaluasi karena tanaman ini adalah tanaman yang sifatnya 3 bulanan,” kata Airlangga.

Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan bahwa Presiden Jokowi juga meminta kepada Kementerian Pertanian untuk menyiapkan alsintan dan menyiapkan ternak sehingga ekosistem sorgum dapat terbentuk di Kabupaten Waingapu.

Adapun Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) beserta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyiapkan pengembangan bioetanol.

“Tentu kita harus mendorong kapasitas luasan lahan yang diperluas, kontinuitas produk, dan juga mendapatkan offtaker,” ujarnya. Salah satu offtaker yang tengah ia pertimbangkan adalah industri pakan ternak, dimana industri bahan bakunya 50 persen jagung dan 50 persen protein lain.

Terkait dengan offtaker, kata Airlangga, sudah ada delapan industri kecil dan menengah yang selama ini menjadi tradisional market dari sorgum. Kedepannya akan dibangun sesuai dengan jumlah lahan yang diperluas. (dezete)

About Dezete

Sebagai Pemimpin Redaksi berita.biz.id beliau merupakan seorang Jurnalis Senior. Beliau mengawali karir jurnalistiknya pada tahun 1995 di Majalah UMMAT Jakarta. Pernah menjadi Redaktur Pelaksana Tabloid AMANAT NASIONAL, Redaktur Majalah KOMODITAS. Kemudian, menjadi Redaktur Tabloid ABSOLUT dan menjadi Editor Freelance Penerbit PUSTAKA HIDAYAH. Juga pernah menjadi Editor majalah FORTUNE Indonesia, Kelompok Kompas Gramedia (KKG).

Check Also

Perbedaan Inggris Raya, Britania Raya, dan Inggris

Seringkali saat negara Inggris dibahas, akan dijumpai tiga nama yang sebutannya mengindikasikan negara tersebut. Yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *